Aku senang tinggal disini, semua kamarnya ber AC, makanan selalu ada, TV besar, dan yang pasti disini tidak ada anjing, tikus, atau kucing lain. Akulah raja dirumah ini.
Pekerjaanku setiap hari adalah makan, tidur, bermanja manja dan selalu memperhatikan majikanku. Kadangkala sembari menunggu majikanku pulang, aku duduk di tepi jendela. Memandang ke lantai bawah apartemen, dimana orang orang berjalan sangat cepat seperti dikejar anjing, padahal dibelakang mereka tak kulihat seekorpun anjing.
Aku sering heran melihat tingkah orang orang dibawah sana," apa sih yang mereka lakukan dengan mainan itu?"
Majikanku punya mainan yang sama, yang sering diletakkannya di samping televisi. Pernah ku mencoba untuk memainkannya, tapi yang terlihat cuma benda yang bisa berpendar dengan banyak huruf yang tak bisa kubaca.
Setiap kali ku memandang dari balik jendela, yang kulihat hanyalah orang yang sibuk memencet tombol tombol pada mainan itu, tanpa melihat kanan dan kirinya, berjalan cepat dan sesekali tertawa sendiri. Terkadang aku melihat majikanku juga melakukan hal yang sama.
"ah..memang aneh orang orang itu. Kenapa harus susah memikirkannya?"
Majikanku adalah orang yang senang berpergian, dan sedihnya aku tidak pernah diajak. Setiap pagi, ketika burung mainan yang ada di kotak itu berbunyi enam kali, majikanku sudah beranjak dari tidur bergegas mandi dan segera pergi. Ketika matahari sudah tak terlihat, dan burung itu berbunyi sembilan kali, aku tahu majikanku akan segera kembali.
Aku tak perlu kuatir dengan makananku, ada bi sri yang selalu menyiapkan makanan untukku, bahkan terkadang mengajakku bercanda. Dia juga yang membereskan semua kenakalanku dirumah ini. Aku senang, ketika aku buang kotoran sembarang, majikanku tak pernah memarahiku, tapi yang di panggil adalah bi sri dan dialah yang membersihkan kelakuanku. Aku memang benar benar raja dirumah ini.
Waktu aku sakit, majikanku sibuk memencet tombol tombol dimainan itu, lalu datanglah orang berpakaian putih dan memasukkan cairan ke tubuhku. Sakit awalnya, tapi setelah cairan itu masuk, badanku terasa lebih enak.
Aku tak perlu repot repot mencari istri, karena ketika aku ingin, majikanku pasti membawakan aku silvi, kucing cantik yang sekarang jadi istriku. Kata majikanku, dia adalah kucing dengan garis keturunan yang baik, walau sayang ia tak lama bisa menemaniku.
...........
Sudah lima belas tahun aku mengikuti majikanku. Setiap hari kulihat majikanku melakukan hal yang sama, selalu pergi pagi dan pulang malam, entah darimana. Tapi yang pasti, setiap tahun aku selalu diajak naik mobil baru majikanku, dan akupun merasakan rumah majikanku semakin lama semakin besar.
Sekarang aku tidak lagi tinggal di rumah yang tinggi, rumah majikanku sekarang hanya dua lantai. Hal yang paling aku suka dirumah ini adalah aku bisa berkeliling menangkapi semut, buang air sembarangan, dan bermain di rumput rumput yang empuk. Tapi yang paling aku benci adalah, kolam air dibelakang rumah, itu bagai jebakan buatku.
Terkadang aku melihat majikanku berenang di kolam itu, sendiri.
Lima belas tahun aku mengikuti majikanku, aku tak pernah melihat ada orang lain selain majikanku dan bi sri. Kadangkala, aku melihat ada beberapa wanita yang datang ke rumah majikanku, tapi mereka tak pernah tinggal lebih dari satu malam.
........
Hari ini ada yang sedikit aneh dengan majikanku, pagi ini dia tidak pergi. Aku ke kamarnya, melihatnya masih terbaring di atas tempat tidur. Kucoba mengajaknya bercanda, ku meloncat ke atas tubuhnya, ku jilat jilat jari jarinya, tapi dia tidak bergeming sedikitpun.
Aku mau lebih nakal, kugigit jari jarinya, dan biasanya dia akan berteriak sambil menyeringai padaku. Tapi ternyata, trikku kali ini tidak berhasil.
Tak lama kemudian bi sri masuk ke kamar majikanku, membangunkannya. Tiba tiba bi sri panik, dia memencet tombol tombol seperti majikanku saat aku sakit. "Apakah majikanku sekarang sakit? Aku tak tahu"
Yang aku tahu, tak lama pria berbaju putih itupun datang, dan dia mengatakan kepada bi sri bahwa majikanku sudah mati.
Mati? Apa lagi itu?
Entah kenapa sekarang aku ingin mengikuti majikanku pergi, akupun melompat ke dalam mobil dimana majikanku berada.
Dari jauh kumelihat majikanku dimasukkan ke dalam sebuah lubang besar didalam tanah, dengan segelintir orang yang mengelilinginya.
"oh, jadi mati adalah pergi sendiri ke dalam tanah", aku baru tahu arti kata itu dan akupun baru tahu kemana selama ini majikanku pergi.
Kalau begitu aku tak perlu khawatir, bukankah selama ini majikanku sudah sering mati? Bukankah setiap hari majikanku selalu pergi?
Yang perlu kulakukan sekarang adalah menikmati rumah majikanku yang besar, menonton tv, bermalas malasan, dan menunggu makanan dari bi Sri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar