Jalan jalan, travelling, backpacker sudah jadi trend dan gaya hidup. Blusukan ke tempat tempat yang eksotis menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi anak muda. Banyak dari mereka yang kemudian berfikir untuk menjadi seorang travel writer. Traveling, fasilitas yang enak, dan dibayar, siapa yang tidak tergiur?
Fenomena ini harus segera ditanggapi oleh pemerintah, kenapa?
Ketika membaca sebuah artikel tentang sebuah tempat yang indah, keinginan untuk pergi dan merasakan langsung pengalaman itu pasti sangat kuat. Menabung, mengajak teman satu komunitas untuk touring kesana, dan 1001 cara lainnya dipakai agar bisa merasakan pengalaman yang ada di artikel itu.
Efek liputan dan tulisan seorang travel writer tidaklah kecil, belum lagi buku bertema traveling yang juga sudah mulai menjamur, memperkuat keinginan banyak orang untuk menjamah setiap jengkal bumi ini.
Salah satu efeknya, massa dalam jumlah yang massive, bisa saja datang ke tempat tempat itu.
Hal positif dan negatif selalu saja muncul dari sebuah tindakan, namun besar kecilnya efek itu kitalah yang nantinya akan menentukan. Di satu sisi, kedatangan banyak wisatawan di satu daerah memang membawa keuntungan dari segi ekonomi, namun di sisi lain, banyak juga hal yang harus diwaspadai.
Gegar budaya, kerusakan daerah wisata, bahkan eksploitasi penduduk lokal oleh orang lain yang memiliki modal lebih adalah beberapa hal negatif yang muncul dari tidak adanya persiapan menghadapi kedatangan wisatawan dalam jumlah besar.
Pada awal kedatangan para wisatawan, penduduk lokal pasti mengalami euforia, dan menyambut wisatawan dengan ramah, menganggap bahwa ini adalah lahan yang baik untuk mengeruk rupiah.
Tapi apa yang terjadi ketika hal ini berlangsung terus menerus? Jika tidak dibarengi dengan bantuan peningkatan ekonomi oleh pemerintah, bukan tidak mungkin, masyarakat lokal mengalami kesulitan dalam mengejar pembangunan dan perkembangan daerah wisata di daerahnya sendiri. Efek yang muncul kemudian, akan banyak investor yang masuk dan memanfaatkan penduduk lokal sebagai pekerja. Eksploitasi?
Kerusakan daerah wisata, tumpukan sampah, fandalisme, prostitusi, gegar budaya, dan banyak masalah lain akan muncul satu persatu seiring berkembangnya wisata suatu daerah.
Selain itu, ketika wisatawan sudah berdatangan secara massive, penduduk lokal akan melihat wisatawan hanya sebagai intruder dan destroyer. Masalah yang muncul di lingkungan itu kemudian akan dipersalahkan residen kepada para wisatawan. Rasa apatis dan perasaan dieksploitasi bukan tidak mungkin juga akan muncul di hati masyarakat setempat.
Lalu, bagaimana solusinya?
Jika membicarakan masalah pariwisata, memang banyak sekali simpul yang harus diurai dan pihak yang harus dilibatkan. Namun secara individu, saya percaya jika kita mulai belajar untuk menghargai kearifan lokal, tidak membuang sampah di tempat wisata, tidak melakukan fandalisme, setidaknya menyumbang kelestarian daerah wisata itu.
Pemerintah sebagai tokoh sentral juga memiliki kekuasaan besar untuk lebih menggalakkan eco tourism. Jangan hanya memikirkan devisa yang masuk, tapi seperti halnya minyak bumi dan batubara, pariwisata adalah aset yang jika tidak dijaga maka akan habis tergerus. Oleh sebab itulah, dibutuhkan tindakan cepat dan langkah strategis pemerintah, untuk menggalakkan pariwisata sebagai sustainable tourism.
Seorang travel writer, sebagai salah satu penggiat pariwisata, setidaknya harus memiliki kesadaran dan berusaha merangkul pembacanya untuk menjaga daerah yang akan dikunjungi sebagai destinasi wisata.
Hal ini mungkin terlihat tidak urgent, tapi jika terlambat disikapi, bukan tidak mungkin
"Kita akan menjadi orang asing di negri sendiri"
"Kita hanya akan menjadi bidak catur tangan tangan asinga bermodal besar"
Masih perlu contoh?
Bali, berapa banyak warga negara asing yang memiliki aset pariwisata disana? Penduduk lokal?hanyalah pekerja.
Situs gunung padang, fandalisme, bertaburan dimana mana. Batu batu yang harusnya dijaga, banyak yang sengaja dipecah hanya untuk cinderamata.
Masih banyak contoh nyata yang bisa dituliskan disini. Tapi, apalah guna menyalahkan dan menyesali yang sudah terjadi.
Tidak ada gunanya menyalahkan gelapnya malam, mari bersama menyalakan lilin untuk menjadi pelita bagi orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar