Kamis, 14 Maret 2013

Rahasia

"Apakah pengajian ini membuat semua dosaku berkurang?",
"apakah dengan tak lagi serba glamour, memperlihatkan kemolekan tubuhku, dan berganti dengan pakaian yang menutup aurat membuatku bisa melupakan masa lalu?", sungguh ku tak tahu.

Satu hal yang tidak akan pernah berubah dariku adalah hati ini masih membutuhkan belaian lembut seorang pria. "YA, seorang pria!"



Malam itu adalah malam yang tak terlupakan bagiku. Saat kumelihat sosok pria berbaju koko abu abu menyelinap masuk dan duduk dibarisan depan. Mata yang lembut, kulit sawo matang, dan badannya yang tegap membuat jantung ini berusaha keluar dari sela sela tulang igaku.

Kejadian yang membuat jantung ini berdebar adalah saat ia menatapku. Memang tak lebih dari 20 detik, tapi itu cukup untuk membuat duniaku runtuh seketika.

"apakah aku mencintainya?"
"apakah pendosa sepertiku pantas mencintainya?"

"Ah, Sekedar tahu namanya bukanlah dosa buatku. Iya kan?"

...........

Sudah lama sekali aku tak ikut pengajian rutin di masjid depan rumahku. Alasan kesibukan kantor, deadline, selalu menjadi alibi yang paling tepat. Padahal kenyataannya?

Mungkin malam itu setan sedang jengah dengan tubuh ini, berbondong bondong pindah dari jasadku dan merasuki orang lain yang mereka inginkan. Musik neraka, pil pil kenikmatan, minuman surga dunia, dan iblis iblis cantik yang biasa mengisi malam malam ku, hari itu entah kenapa tak lagi menarik.

AKu memilih kembali bersila di pengajian itu. Berbekal baju koko andalan, kubulatkan tekad kembali ke jalan yang benar. Siapa tahu? disanalah belahan jiwa yang selama ini kucari.

Ternyata Tuhan memang maha mengetahui maksud hambanya. Malam itu, aku melihat malaikat cantik berbalut jilbab putih duduk dibarisan belakang. Tatapan matanya membuatku bergetar, membuat wajahku semu.

Segera kuberpaling, tak ingin ia melihat wajahku. Wajah yang mencerminkan isi hatiku, hati merah jambu.

............

Pertemuan itu membuatku semakin rajin pergi ke masjid di RW sebelah. Sebelum berangkat, Dua jam pasti akan habis hanya untuk memastikan bahwa aku cantik untuknya.

Berbagai macam cara kulakukan untuk mendapatkan hatinya. Kuberusaha mendekat, sekedar untuk mendengar suaranya yang merdu ketika mengaji. Sekaligus menarik perhatiannya.

Dan memang caraku terbukti ampuh, dia mengirimkan surat lewat temanku. Surat yang menjadi awal puluhan surat antara diriku dan dirinya.

Sepertinya dia memang mencintaiku.
"tapi, apakah pendosa sepertiku pantas untuk dicintai?"
............

Aku bersyukur, sewaktu kecil aku masih sering ikut TPA. Setidaknya aku masih bisa membaca al quran dengan baik.

Setiap kali giliranku membaca al quran, keberusaha memerdukan suaraku, dan membetulkan lafazku. Karena kuingin tampil baik dihadapannya.

apakah hanya perasaanku, atau memang taktikku berhasil?
Semakin hari dia semakin cantik dan duduk semakin tak jauh dariku.

Bagaimanapun hasilnya, aku harus mencoba untuk memulai. Lewat sepucuk surat mungkin?
............

Sudah dua hari aku tak lagi hadir di pengajian itu. Jujur! aku bimbang.
Aku tak ingin dia meninggalkanku, tapi aku juga tak ingin berbohong darinya.

Aku hanya ingin dicintai, walaupun kenyataannya tidak semua orang bisa menerima keadaanku dan mencintaiku.

"apakah pendosa sepertiku pantas dicintai?"
..............

Dua hari ini dia tak pernah menghiasi serambi masjid depan rumahku.
"Kenapa?"

Rangkaian bunga, kata kata indah, dan sepasang cincin cantik sudah kusiapkan untuk meminangnya.

Kuingin mencarinya, "tapi kemana?"
Dia tak pernah memberi tahuku dimana ia tinggal.

"Apakah dia sudah mengetahui masa laluku?"
Masa dimana aku senang membuktikan kejantananku kepada banyak wanita.
"Apakah dia sudah tahu semua dan memilih meninggalkanku?"

Oh sungguh, bukan ku tak ingin menceritakan semua itu padanya. Aku hanya menunggu waktu yang tepat.

Waktu yang tak pernah lagi akan kumiliki, karena hari ini adalah hari terakhirku disini, sebelum kupergi ke negri bambu.

"mungkin orang sepertiku tak layak mendapatkannya. Wanita cantik berjilbab putih dambaanku"
"kuyakin dia kan mendapat jodoh yang lebih baik dariku"
..............

Kaget, reaksi pertamaku ketika tahu dia tak lagi ada disini.
Sedih, marah, adalah hal yang berkecamuk di dalam hati ini.
Mungkin ini jawaban atas pertanyaanku selama ini,

"apakah pendosa sepertiku layak dicintai?"

Banyak pertanyaan berkelebat muncul dikepalaku,
"Kenapa dia pergi secepat ini?"
"Kenapa dia pergi meninggalkanku?"

"Apakah dia sudah mendengar cerita tentang seonggok daging di antara selangkanganku?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar