Sabtu, 23 Februari 2013

"SAHABAT?"


"Sesampainya disana, aku harus menjauhkan pisau, gunting, atau apapun yang bisa dipakainya untuk membunuhku",

Kuberanikan diri datang ke rumah itu, rumah gaya eropa lengkap dengan penjaga di setiap gerbangnya. Siapapun pasti akan tahu kalau pemiliknya adalah orang yang berkuasa, tapi tidak semua orang tahu kalo pemilik rumah itu adalah suami sahabatku.


"citra? Langsung suruh masuk saja pak", suara dari speaker interphone itu terdengar jelas dan berwibawa.

Dalam hitungan detik, aku sudah berada di sebuah ruangan dengan perabot yang mahal tapi terkesan sangat nyaman dengan sentuhan wanita disetiap jengkalnya. Sesosok wajah hangat muncul disertai derai tawa anak anak yang bahagia bergelantungan di gendongan sahabatku itu, Novi.

"hei, citra, apa kabar? Kangen aku sama kamu", peluknya hangat."nayla, dito, kasih salam sama tante citra",lanjutnya

"hallo tantee...",sembari berebut mencium tanganku lalu berlari masuk ke ruang bermainnya

"waaaa, anak anakmu lucu ya nov, sudah sekolah?",tanyaku.

"haha, iya. Nayla sekarang tk dan Dito baru playgroup. Kamu sendiri kapan pindah ke jogja?"

"baru setengah tahun ini aku pindah, semenjak cerai dari suamiku"

"jadi kau sudah cerai dengan Dimas?", ekspresi terkejut terpancar jelas di wajahnya.

Mendengar nama itu, fikiranku seketika melayang kembali ke masa lalu. Saat aku dan Novi masih berjuang menuntut ilmu di kota ini.

Novi adalah sahabatku satu satunya, sama sama perantauan membuat kami menjadi lebih akrab. Apalagi kami berdua juga bergabung di komunitas yang sama, dan ternyata diam diam hati kami pun tertuju ke pada satu nama, DIMAS.

Dimas kurniawan, sosok pria sumatra jawa begitu melekat dihatiku. Suaranya yang mantab membuat kami berdua bergabung di komunitas teater yang memang diketuainya kala itu.

Teater? Aku tak pernah suka teater, karena menurut fikiranku yang matematis, seni tak bisa memberikan hidup yang kuinginkan. Tapi ternyata cinta, mampu merubah segalanya.

Beda halnya dengan diriku, Novi memang sejak dulu suka sekali teater, jadi mendekati Dimas adalah bonus tambahan baginya. Mungkin ini juga yang membuat ku kalah bersaing dimata Dimas.

Setiap hari, hati ini semakin tersayat melihat kedekatan mereka berdua, menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja. Persahabatan, itulah tombol yang membuat bom itu tak pernah aktif..

Kesabaran memang selalu berbuah manis, dan kesabaranku mendekati Dimas mendapatkan titik cerah. Novi, harus melakukan pertukaran pelajar ke Jepang selama satu tahun. Hatiku gembira,sangat gembira.

Bukan gembira karena sahabatku berhasil meraih cita citanya, tapi karena ini jadi kesempatan emas untukku mendapatkan hati Dimas. Jahat? Licik?Tidak menurutku!. Karena setiap orang berhak mendapatkan cinta yang diinginkannya bukan?

Siapa sih yang tahan melihat tubuhku yang elok, kulitku yang mulus, dan sifatku yang periang? lelaki manapun bisa aku dapatkan, tak terkecuali Dimas.

Terbukti!, tak butuh waktu lama dari kepergian Novi ke negri sakura, Dimas jatuh ke pelukanku. Cinta memang membutakan segalanya, dan peluh kenikmatan selalu menghiasi hubungan cinta kita berdua. Hal itu sengaja kuciptakan, sebagai tali tak tampak yang mengikat erat hatinya dan hatiku.

Setahun berlalu, Novi pun kembali ketanah air, dan  kami berdualah orang yang pertama menjemputnya di bandara. Novi hanya tersenyum melihat aku dan Dimas bergandengan tangan menantinya di pintu kedatangan.

Tak kusangka, di taksi ia sempat berbisik,"selamat ya cit. sudah jadian? Jaga baik baik ya."

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Entah apa yang ada difikirannya saat itu.

Semua masih sama, novi masih sahabatku, yang membuatnya berbeda adalah Dimas sekarang sudah menjadi milikku. Sakit hati? Mungkin itu yang dirasakan Novi, tapi perduli setan. Aku juga pernah merasakannya dulu, saat mereka berdua juga dekat. Jadi adil kan?.

Setelah lulus, aku dan Dimas menikah kemudian pindah ke sumatra. Sedangkan Novi, mendapatkan pekerjaan di kota pelajar ini.

Tak lama, aku sempet mendengar, bahwa Novi akhirnya menemukan tambatan hati. Surya dwiputra, seorang anak konglomerat kaya yang sekarang berhasil jadi seorang wakil rakyat.

"Citra!", panggilan itu membuyarkan lamunanku.

"eh iya, kenapa Nov?", sambungku."nggak papa, ya sudah kalo nggak mau cerita soal Dimas. Kapan kapan aja",ujarnya

Kamipun bercerita banyak, layaknya sahabat yang berabad abad tidak bersua. Bercangkir cangkir teh kami habiskan dan Novi juga sempat membuatkan masakan spesialnya untukku.

"suamimu mana nov? Kok nggak keliatan?", tanyaku tiba tiba

"oh, dia tadi pagi berangkat dinas ke luar kota. 3 hari katanya. Setahun ini suamiku sibuk sama bisnisnya diluar kota cit", jelasnya.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti, tanpa menanyakan lebih lanjut apa usaha suaminya itu.

Tak terasa, waktu  sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan akupun berpamitan pulang. Sebelum pulang, kupeluk sahabatku itu, "Nov, maafin aku ya, aku belum bisa cerita semuanya",ujarku tulus.

"maafin kenapa? dimas? Nggak ada yang perlu dimaafin kok. Kapan kapan main lagi ya kerumah, ntar ku kenalin sama suamiku", jawabnya sumringah, dilengkapi senyum hangat khas Novi.

"Kamu memang nggak pernah berubah Nov, tetap baik", batinku di dalam hati

Kujejakkan kakiku di pedal gas, memacu honda jazz merah kesayangan, menuju rumah yang baru saja kubeli di sekitaran daerah kaliurang. Sesampainya di rumah, pelukan dan kecupan penuh cinta itu sudah menungguku. Menghiasi setiap lekuk tubuhku.

"kemana aja sih? Aku sudah nunggu dari siang lho",rengeknya manja
"baru ketemu sahabat lama", jawabku

Sudah lebih dari satu tahun, lelaki ini mengisi hari hariku. Lelaki yang membuatku harus memilih antara dia atau Dimas. Lelaki ini jugalah yang membuatku harus pindah ke jogja, agar lebih dekat dengannya.

Lelaki itu bernama Surya Dwiputra, Suami sahabatku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar